Tangisan : Simbol Kekuatan dan Kesabaran


"Aku harus bagaimana?" tanya gadis itu dengan tatapan kosong lalu terduduk di ranjangnya.
Pandangannya menerawang kedepan, diikuti dengan buliran bening yang keluar dari ujung matanya. bulir air mata itu terus mengalir. deras. hingga akhirnya memecah udara. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menutup suara tangisnya dan menghapus airmatanya agar segera berhenti. tapi gagal. Ia lalu berbaring, menutup wajah, lalu menyamping sambil terus menangis.

Aku menghela nafas, ikut bersedih, tapi tidak bisa ikut menangis. aku ingin mengusap bahunya, menenangkannya, tapi tidak bisa juga. jadi aku hanya bisa memperhatikannya, menunggu tangisnya reda.

Ia tertidur. sepertinya karena lelah menangis. Ini memang bukan pertama kalinya aku melihatnya menangis, tapi ini pertama kalinya dia menangis bukan dalam keadaan berdoa. Sepertinya dia benar-benar terluka.

30 menit kemudian dia terbangun. setelah agak lama duduk, ia  berdiri, berjalan ke arah cermin.
aku menatapnya, dia menatapku.
aku tersenyum, dia tidak.

"Tidak apa, kau memiliki alasan untuk menangis", kataku berusaha menghiburnya.
pandangannya menunduk lalu kembali menatapku.

"Tere liye bilang, menangis tidak selalu simbol lemah tak berdaya. Menangis dalam situasi tertentu justru adalah simbol kekuatan, kesabaran dan kehormatan. Tangisanmu tadi adalah simbol kekuatan dan kesabaran."
Ia hanya menarik nafas panjang.

"menangis itu wajar, asal setelahnya kau bangkit lalu menjadi kuat. karena ada Allah yang selalu menguatkanmu." kataku lagi.
kali ini dia tersenyum, lalu membatin: "Benar, Allah tak pernah meninggalkanku. Dia bahkan selalu menghapus air mataku. Hanya dengan mempercayainya, dia menghapus lukaku dan menguatkanku. Besok-besok aku tidak perlu lagi menangis sendirian, cukup langsung menghadap kepadaNya, menjadikannya sandaran. hanya dengan begitu, kesedihanku benar-benar hilang. Hanya allah yang benar-benar mengerti dan hanya Allah yang tak pernah meninggalkanku sendiri."

"Bagus, kau kembali menjadi dirimu sendiri." aku memujinya.
Dia tersenyum dengan penuh kemenangan. lalu pergi mengambil air wudhu. ya, ini waktunya dhuha.

Aku senang melihatnya tersenyum, senyumnya manis semanis gula. ah gadis itu, dia benar-benar kuat melebihi yang dia sangka.

1 Comments

  1. Ternyata betul juga ya, 'MENANGIS' ternyata boleh dan wajar ya.

    so.. Bagaimana agar sebuah tangisan itu benar-benar menjadi sesuatu yang nendang, bukan sekedar tangisan buaya :)

    thank

    ReplyDelete