Sirkus Pohon: Tentang Cinta, Cita-cita, Politik dan Hikayat Pohon Delima

Assalamualaikum.

Judul : Sirkus Pohon
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Jumlah Halaman : 424
Sebelum me-review buku ini, izinkan saya mengucapkan beribu terima kasih kepada rekan-rekanku yang telah patungan demi menghadiahkanku beberapa novel di hari ulang Tahunku kemarin. Salah satunya adalah masterpiece Andrea Hirata yang bertajuk Sirkus Pohon. Novel yang sudah kunanti-nanti sejak tahu novel baru Andrea segera terbit, meskipun belum tahu judulnya apa. Thanks a lot, friends.

Sedikit cerita, saya jatuh cinta dengan karya-karya Andrea Hirata sejak pertama kali membaca novelnya yang berjudul Ayah pada 2015 silam. Sejak saat itu, setiap ada teman yang ku tahu memiliki novel Andrea, akan kudekati, kupinjam novelnya, kubaca, kuhayati, kunikmati lalu ku amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ojeh, kembali ke Sirkus Pohon. 

Sirkus Pohon merupakan novel ke-10 sang maestro kata, Andrea Hirata. Berdasarkan pengakuan beliau, novel ini merupakan novel terlama dibuatnya. Waktu riset dan penulisan membutuhkan waktu sekitar 6 tahun sebelum akhirnya terbit pada bulan Agustus 2017. Amboi! Pantas saja novel ini sangat keren, ternyata dibuat sedemikian seriusnya.

Jadi novel ini menceritakan tentang kisah yang saling terhubung antara Pohon Delima dan beberapa anak manusia di Tanjong Lantai, Belitung. Ada Sobrinudin bin sobirinudin alias Hobri alias Hob sang bujang lapuk yang otaknya jarang berfungsi namun penuh ketulusan cinta, ada kisah penantian ironi dari 2 muda-mudi yang sedang kasmaran; Tara dan Tegar, ada Taripol yang penuh akal busuk, Gastori sang politikus, Bu boss yang baik dan bijak, Aziza, Instalatur Suruhudin, Halaludin, Debuludin, dan lainnya.

Meski banyak kisah dalam satu buku, masing-masing kisah tetap jelas dan mudah di cerna.

Ceritanya sederhana, namun dikisahkan dengan gaya bahasa Andrea yang magis, khas melayu, menarik dan tidak membosankan. Kenapa tidak membosankan? Karena kisah-kisahnya penuh humor. Seperti pemilihan kepala desa dalam novel ini, kisah politiknya sangat menghibur.  Cerita tentang para kandidat yang suka melakukan pencitraan dan suap, malah bikin tertawa. Dari situasi politik itu nanti akan lahir lomba-lomba yang membuat perut sakit akibat terbahak-bahak. Lomba memetik bass hingga senarnya putus, lomba berteriak hingga toples kerupuk pecah, dan lomba lainnya yang tak kalah masuk akal.

Selain itu, kisah cinta yang disajikan malah membuat kesan ironi menjadi sesuatu yang bisa ditertawakan. Romantic comedy. Seperti perjuangan Hob mencari pekerjaan tetap demi melamar pujaan hatinya, Dinda. Pekerjaan tetap yang di maksud harus punya seragam, pergi pagi pulang petang, ada mandornya, ada lemburnya, ada rapat-rapatnya, ada absennya, dan ada THR-nya.
Disisi lain ada kisah cinta Tara dan Tegar yang diam-diam saling mencari tapi tak kunjung dipertemukan. Penuh lika-liku kayak film India. Perjuangan mereka dalam mencari bikin stress, gemesh tapi lucu. Hingga akhirnya kita dibuat baper karenanya.


***

Membaca novel ini membuat saya tertawa sambil terpingkal-pingkal, sambil tersenyum, sambil nyengar-nyengir, sambil terharu,  sambil baper, sambil berpikir keras walau tak sampai bikin sakit kepala. Pokoknya semua emosi akan dirasakan saat membaca novel ini. Oiya saya suka endingnya, ada twisting disitu.

Novel ini mengajari kita bagaimana kasih sayang dan ketulusan mampu mengalahkan kekuasaan. Bagaimana kekuatan mimpi mampu mengubah keadaan.

Pokoknya ini novel terbaik, terbagus, terkeren, ter-recommended. Saya tak menemukan kekurangan dalam novel ini. Perfect. AmazingSaya suka-saya suka.

So, baca boi, dijamin kau takkan rugi.

Kutipan Terfavorite:
Ribuan kali mereka gagal, tapi mereka menolak untuk menyerah. 
Mereka diremehkan, dimarahi, dijatuhkan, dihina, dituding, disisihkan, dikucilkan, diabaikan, diusir, dibuang, terkilir, tergencet, tertungging, terjerembap, terempas, terkapar, tertusuk, terpukul, bengkak, benjol, bengkok, patah, cedera, terluka, berdarah, meringis, mengadu, menangis, tapi mereka tak berhenti sampai berhasil. 
Mereka adalah para penakluk rasa sakit yang selalu dicekam hukum pertama bumi: gravitasi, selalu menjatuhkan! 
Namun mereka memegang teguh hukum pertama manusia: elevasi, selalu bangkit kembali!
(Hal. 72)

11 Comments

  1. Banyak banget yang bilang seru ni buku. Brb cari di gramedia.

    ReplyDelete
  2. Saya pernah dibuat penasaran dengan buku ini, dan sempat masuk daftr list buku yang harus saya beli. Tapi saat sepintas membaca bukunya, saya sedikit kesulitan dengan gaya bahasanya. Jadi masuk daftar list lagi deh. Tapi saya sempat memotretnya juga. Photonya ada di IG saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya gaya bahasanya menggunakan sentuhan melayu, emang banyak kata-kata yang susah dipahami tapi cara andrea membawakannya asyik jadi aku menikmatinya. hhaaa

      Delete
  3. aku juga uda baca bukunya sakses mengaduk emosi dr ketawa, sedih ketawa lagi begitu aja terus hahha

    ReplyDelete
  4. hai mbak selalu suka sama karya andrea hirata. Sekarang lagi nabung mbak buat beli bukunya. terimakasih ulasannya mbak jadi semangat nabungnya

    ReplyDelete
  5. Makin penasran aja nih bacanya, pengen baca lengkap bukunya..
    Info harganya dong, Teh..hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekitar 70an kalo nda salah. hheee langsung aja meluncur ke gramed :)

      Delete