Aku dan kakak perempuanku

5 Menit setelah mama mematikan lampu kamar, ada cahaya yang muncul di sebelahku lalu menyoroti wajahku. Ya, itu cahaya senter kakakku yang ia keluarkan dari balik bantal, lalu dia bertanya "apa kau sudah tidur?"
"Belum", jawabku.

Ia tersenyum, kemudian menceritakan berbagai kisah yang entah dia dapat darimana hingga aku terlelap.
Sejak saat itu, aku tidak bisa tidur sebelum mendengarnya bercerita. Cerita tentang kisah-kisah baru yang akan ia jadikan novel, pengalaman-pengalamannya di sekolah dan mimpi-mimpinya.

Di lain hari, dia memukuli anak lelaki yg merampas bekalku hingga aku menangis. Kalau kau melihatnya waktu itu, kau juga akan berpendapat bahwa dia lebih hebat dari super hero yg di tivi-tivi.

***

Kalau aku mengingat-ingat, masa kecilku adalah hal paling indah dikenang, dan kakakku lah yang menjadi bagian paling tak terlupakan.
Aku rindu saat kita cuci piring bersama, dia yang menyabuni dan aku yang membilas.
Saat kita cuci pakaian bersama, dia yang menyikat dan aku yang menjemur.
Saat dia selesai menulis puisi & cerita-cerita yang ia sebut novel, dia menjadikanku orang pertama yang membaca dan mengomentarinya meskipun aku bukan editor profesional. Kakakku  memang senang menulis sejak kecil.

Kerukunan kami membuat banyak tetangga yang heran dan bertanya-tanya kenapa kami tidak pernah bertengkar. Mau tau kenapa? Karena orangtua kami mengajari bahwa amarah tidak menyelesaikan masalah.
Ketika kami melakukan kesalahan, bentakan & pukulan tak pernah kudapatkan, hanya diam dan ungkapan kekecewaan namun berhasil membuat kami sadar diri.

Sehingga jika masalah muncul diantara aku dan kakakku, ketika aku berbuat salah dan menjengkelkan, dia hanya diam. Aku tahu diamnya adalah marahnya, maka aku segera meminta maaf.

Kakakku adalah idolaku. Sosok yg kukagumi setelah orang tuaku. Kepadanyalah aku berbagi keluh kesah & rahasia yang tidak seharusnya dicerita. Dia adalah saudara sekaligus sahabat. Aku menganggapnya anugerah terindah saking bangganya aku memilikinya.

Dan kini, kita telah dewasa. 
Menyaksikan pernikahannya kemarin membuatku sadar bahwa keadaan sudah berubah. Perhatian dan kasih sayangnya akan terbagi dengan sang suami.
Aku tidak bisa lagi mengajaknya tidur bersama, tidak boleh mencuri waktunya lebih banyak.

Wedding's sister - Dok. Pri

Tiba-tiba aku merasa kehilangan, ada sebagian dari jiwaku yang hilang.
Aku senang melihatnya tersenyum di hari bahagianya, juga sekaligus merasa sedih. Tapi, ada satu keyakinan yang membuat sedihku berkurang: aku percaya, namaku tak pernah alpa dari doa-doanya.


Dok. Pri

Sampai kapanpun, kita akan tetap saling menyayangi :)

2 Comments

  1. baca-baca tulisannya menarik dan unik
    thank dan salam kenal

    ReplyDelete
  2. Wuah foto terakhir bikin adem,, heheheh sama-sama cantik soalnya..
    Yang kakak mana, yang adek mana yah? soalnya mukanya mirip banget heheheh

    ReplyDelete