Review Buku : Ayah, Buya HAMKA

Saya ingat ketika pertama kali baca novel karya Buya Hamka waktu SMP yang judulnya Di bawah Lindungan Kakbah, saya langsung jatuh cinta sama sosok beliau. Jadi pas liat temen punya buku ini, langsung pinjam deh (yup, sekali lagi, buku kali ini hanya pinjaman :v).

Judul : Ayah...Kisah Buya HAMKA
Penulis : Irfan HAMKA
Penerbit : Republika
Jumlah Halaman : 322

Sebelum membahas buku ini, saya ingin mengulik sedikit tentang penulis yang tak lain adalah anak Buya Hamka sendiri, Irfan Hamka. 

Irfan Hamka merupakan anak kelima dari 12 bersaudara. Sewaktu menyusun buku ini pada tahun 2013, pak Irfan sudah berusia 70 tahun. MasyaAllah. Beliau tetap semangat menyusun buku ini dengan niat memperluas syiar dan kisah Ayahnya sehingga banyak yang akan terinspirasi dan termotivasi dalam meningkatkan takwa kepada Allah. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Buya Hamka merupakan seorang ulama besar sehingga kisah-kisahnya sarat akan makna insyaAllah. 

Kisah Buya Hamka

Buya Hamka bernama lengkap H. Abdul Malik Karim Amrullah, lahir pada tanggal 17 Februari 1908. Hamka adalah nama pena beliau. Beliau merupakan ulama, sastrawan, budayawan, politisi, pejuang kemerdekaan dan seorang sufi. 

Kisahnya di buku ini diawali dengan kenangan anaknya mengenai nasihat beliau tentang hubungan suami istri, kehidupan berumah tangga dan larangan berbohong. Nasihat-nasihat yang menyejukkan, menuntun dan tidak menggurui.

Cerita berlanjut ke masa kecil penulis dengan Ayahnya. Dibagian tersebut dapat kita simpulkan betapa Buya Hamka merupakan seorang Ayah yang berwibawa dan merupakan tokoh pejuang kemerdekaan. 

Read Also: Nibiru dan Kesatria Atlantis, Tasaro GK :)

Oiya dibagian ini ada satu kisah yang menurutku lucu dan berkesan. Yaitu kisah ketika penulis berumur 5 tahun. Waktu itu penulis bermain diluar rumah bersama adiknya yang berumur 3 tahun.  Karena keasyikan memburu pedagang tebu, tanpa mereka sadari mereka sudah sampai di stasiun Bukittinggi. Mereka melihat kereta api berhenti, adiknya yang polos itu mengajaknya ikut naik kereta api. Merekapun naik tanpa ada yang melarang. Kereta api membawa mereka ke Padang Panjang.
Singkat cerita, merekapun tersesat dan ketika ditanya petugas polisi "Siapa orang tua kalian?", penulis menjawab "Ayah dan Ummi". hhaa. Petugas bertanya lagi, "nama Ayah siapa?", dijawab "nama Ayahku Buya.". Penulis tidak tahu nama Ayahnya, beliau hanya tahu orang-orang memanggil Ayahnya dengan sebutan Buya. Pelajaran moral nomor 1 : Ajarilah anak mengenai nama orang tuanya sedini mungkin, biar ketika hilang mudah ditemukan.

Dibagian-bagian selanjutnya penulis kebanyakan menceritakan pengalaman perjalanan bersama ayahnya, tentang Buya Hamka sebagai suami, sebagai ulama dan kehidupan sang Ayah dalam berpolitik. 

Ada cerita seru dibagian  Buya Hamka, istrinya dan penulis melakukan perjalanan haji, tepatnya di halaman 117. Mereka berkali-kali menghadapi perjalanan maut ketika ingin mengunjungi negara-negara disekitar Jazirah Arab. Mulai dari angin topan gurun pasir yang mengejar mobil mereka, kecelakaan yang hampir terjadi karena supir tertidur, hingga air bah yang menghantam mobil. Berkat pertolongan Allah mereka selamat :D

Di bagian yang berjudul Ayah dan Ummi, teman hidupnya sempat membuat mata saya berkaca-kaca sambil membatin,"how lucky they are to have each other." Buya Hamka yang berjiwa besar memiliki istri yang berjiwa tangguh. Sehingga ketika Buya di penjara karena fitnah, sang istri mampu menjaga anak-anaknya dengan sikap yang penuh kebijaksanaan. Ketika Buya dipenjara, istrinya juga tak luput dari hinaan dan fitnah, tapi kau tahu, beliau sang istri berhasil melaluinya dengan cara yang elegant. Ah, benar-benar pasangan yang sempurna. 

Dilain halaman penulis menceritakan kisah yang menunjukkan betapa lembut hati Buya, pemaaf dan tidak pendendam. Yaitu ketika Buya dimasukkan kedalam penjara karena alasan yang tidak masuk akal oleh sahabatnya sendiri, Soekarno. Jujur, ini pertama kalinya saya mengetahui sisi lain dari Soekarno. Tapi Buya tidak marah dan tetap menjalani kehidupannya di penjara selama 2 tahun 4 bulan dengan lapang dada. Menjelang Wafat, Soekarno meminta maaf pada Buya karena menyadari kesalahannya di masa lalu dan meminta Buya untuk mengimami jenazahnya nanti. 

Selain Soekarno, ada juga tokoh Moh. Yamin dan Pramoedya Ananta Toer yang gemar meluncurkan serangan fitnah ke Buya Hamka hanya karena mereka berbeda pandangan politik. Tapi di akhir kisah, Moh. Yamin meminta maaf dan meminta Buya membimbingnya mengucap kalimat syahadat disaat sakaratul maut. Begitu juga dengan Pramoedya, ia meminta maaf dan meminta kesediaan Buya untuk mengajari putri dan menantunya ilmu agama.

Kalo kita yang menjadi Buya Hamka mungkin tidak akan mau ya, tapi Buya berbeda. Beliau memaafkan dengan tulus dan memenuhi permintaan sahabat-sahabatnya itu. Mulia benar hati Buya...

Diantara kisah-kisah buya yang diceritakan penulis, yang paling menarik ada di halaman 254. Kisah yang membuat kita mengetahui betapa Buya Hamka adalah seorang ulama yang sangat toleran, berjiwa besar dan pemaaf. Tapi dalam masalah aqidah, beliau tidak bisa berkompromi. Inilah yang sangat menginspirasi bagi saya. Yaitu ketika MUI mengeluarkan fatwa haram hukumnya bagi umat Islam mengikuti perayaan Natal bersama, Pemerintah keberatan atas fatwa tersebut. Karena bertentangan dengan Pemerintah, beliaupun mengambil sikap tegas: mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum MUI Pusat. 
Sebelumnya diceritakan pula kalau Buya pernah menolak tawaran jabatan sebagai Mayor Jenderal Tituler dan sebagai Duta Besar di Arab Saudi karena ingin fokus melayani masyarakat sebagai ulama. MasyaAllah. Benar-benar ulama sejati, ulama yang sepertinya pribadi seperti beliau sudah sangat sulit ditemukan di zaman sekarang.

Kalau kamu ada di posisi Buya Hamka, emang kamu mau menanggalkan jabatan demi keimanan?

Kamu bersedia menolak tawaran jabatan tinggi demi syiar islam?

Ah, yang kulihat, kau rela menjilat ludahmu sendiri demi mendapatkan jabatan itu. Kamu, iya kamu! :p

***

Akhirnya, saya mendapatkan banyak pelajaran dari buku ini. Kehidupan Buya Hamka menginspirasi saya dalam menyikapi berbagai persoalan, seperti menghadapi fitnah, kebencian orang lain dan ujian-ujian hidup lainnya. Intinya: Balas keburukan dengan kebaikan, selama kita hanya mengharapkan ridho Allah, maka sebesar apapun kesulitan yang diterima, kita akan baik-baik saja. After a storm, comes a calm. :)

Oke, kututup tulisan ini dengan sebuah pantun kesukaan Buya, karya Datuk Panduko Alam dalam buku Rancak di Labuh yang berbunyi:

Putuslah tali layang
Robek kertasnya dekat bingkai
Hidup nan jangan mengapalang
Tidak punya berani pakai.



Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat~

Sumber Gambar: http://www.semogabermanfaat.web.id/Review-buku-ayah.html



1 Comments

  1. nice review, jadi ingin tau lebih banyak tentang seorang buya hamka

    ReplyDelete