Belajar Lebih Ikhlas

Dengan berkali-kali jatuh, berkali-kali gagal, berkali-kali sakit, aku pikir hati & jiwaku telah kuat. Ternyata mereka masih lemah.

Hari ini aku melihat betapa hatiku masih merasakan kecewa disaat gagal, merasakan sakit disaat kenyataan tak sesuai harapan, hingga udara yang kuhirup terasa sesak. Jiwaku seolah ingin berteriak; "kenapa gagal lagi ya Allah?"
Dan bulir-bulir bening pun mulai mengalir.


Ucapan "InsyaAllah ada rezeki yang lebih baik", dari para sahabat masih membuatku sulit menerima kenyataan.
Aku merasa sudah melewatkan kesempatan terakhir untuk meraih mimpiku.
Aku merasa tak berguna karena masih belum bisa membuktikan ke keluarga kalau aku bisa diandalkan.


Disaat aku benar-benar merasa berada di titik nadir, Allah seolah berbisik kepadaku, "Buka Al-quranmu...bacalah Al-quranmu."
Kutarik nafas dalam-dalam lalu kuseka air mata yang masih menetes.
"Bukannya tidak mau, rasanya sekarang berat membaca sesuatu. Bolehkah untuk saat ini aku hanya diam, menangis, atau merenung?" Batinku menjawab.


Tapi tanganku tak bisa kutahan menarik Al-quran yg ada didepanku.
Tanpa memilih, kubaca surah yang pertamakali terbuka. Halaman 66, Surah al-imran ayat 122. Aku terhenti diayat 139 dimana artinya berbunyi;
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”.


Aku ingat ayat ini adalah ayat yang sering kukirimkan pada teman-temanku yang sedang bersedih, ayat ini juga yang sering kujadikan caption di sosial media sebagai pengingat diri.

Aku menangis sejadi-jadinya, mungkin karena malu, karena sempat lupa bahwa ada Allah yang tak pernah meninggalkanku sendiri tapi kok malah bersikap seolah tak ada yang menemani, larut dalam rasa kecewa dan sedih.


Aku lalu teringat dengan doa-doa yang selalu kupanjatkan ditiap sepertiga malamku; dimana aku meminta Allah untuk menjadikanku pribadi yang bermanfaat.
Aku kembali beristighfar karena sadar selama ini sepertinya aku terlalu berusaha untuk membuktikan diri menjadi terbaik didepan manusia tapi lupa mengejar menjadi yang terbaik didepan Allah.


Aku akhirnya yakin, kalau testku dinyatakan lolos mungkin kelak aku hanya mementingkan diri dan keluarga, karena itulah Allah menggagalkannya.
Ada sesuatu yang lebih baik didepan sana, yang bisa membuatku lebih bermanfaat terhadap sesama dan semakin dekat denganNya.


Akupun memeluk Al-quranku karena disaat aku mulai bingung bagaimana cara agar hatiku kembali kuat, ia seakan menjawab:
“….Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal…….” ( QS.At-Taubah : 129)

Duhai, maafkan aku yang sempat terlupa padahal nikmatMu kuselami tiap waktu.
Aku kembali, aku disini, hanya untukMu, pemilik jiwaku.






0 Comments