Menangkap Momen Seru di Hari Pertama Bertemu

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.45 sewaktu aku menjelaskan alasan keterlambatanku pada seorang guru di ruang kantor. Hari ini, Sabtu, 15 September 2018 adalah hari pertama kelompok NBS Makassar untuk masuk di kelas dalam rangka perkenalan. Tepatnya di SDN Katangka 1 Makassar. Setelah menerima alasanku dan gurunya menjelaskan sedikit tentang keadaan murid-murid, akupun dipersilakan pergi ke kelas.




"Guru baruki kak?" tanya seorang murid sewaktu aku baru memasuki ruangan. Suasana yang tadinya ribut dengan posisi murid yang berhamburan segera kembali rapi tanpa ada aba-aba dariku. Mereka kembali ke tempat duduk masing-masing sambil berseru "ada guru baru...ada guru baru."

Aku sedikit terharu dengan antusias mereka saat menyambutku. hheee

Setelah keadaan kelas agak kondusif, aku memulai perkenalan pada mereka. Iya, hanya aku sendiri karena kedua rekanku yang siap untuk berpartisipasi sepertinya juga akan datang terlambat. 

Sesi perkenalan dan penjelasan singkat mengenai materi-materi yang akan mereka pelajari selama program NBS, berlangsung lancar. Aku tak kesulitan mengeluarkan suara karena mereka mendengarkan dengan takzim, nyaris tak ada keributan. Bahkan saat aku menanyakan "Ada pertanyaan?" mereka tak menjawab. Entah mereka menyimak atau tidak, mengkhayal atau tidak, aku lanjut ke sesi ice breaking untuk memecah kebekuan.

Dan ketika kukatakan, "Oke sekarang waktunya kita main games", hampir semuanya berdiri kegirangan menjawab, "Yayy main game apa kak?" dengan wajah yang sumringah.

Kami main games perkenalan yang nama permainannya 'Topiku'. Kami membentuk lingkaran dengan aku ditengah-tengah. Aturannyanya, ketika mengatakan To, gerakan harus memegang kepala. Mengatakan Pi, gerakan memegang pundak. Dan ketika mengatakan Ku, gerakan menunjuk teman. Yang ditunjuk akan melakukan hal yang sama, begitu seterusnya. Gerakannya harus cepat, sehingga ketika ada yang salah maka dialah yang gugur. Yang gugur akan maju untuk memperkenalkan diri. Setelah aku mengatakan mulai sambil menunjuk salah satu anak yang artinya permainan dimulai darinya, permainanpun berlangsung.

Momen seru ketika bermain games Topiku

Cukup banyak anak-anak yang melakukan gerakan salah saat bermain. Tiap anak yang maju akan memperkenalkan nama, alamat dan hobinya. Sayangnya aku lupa memotret mereka yang memperkenalkan diri. Efek terlalu senang saat menyaksikan mereka bermain sepertinya.
Lihatlah wajah-wajah mereka di foto itu, keceriaan mereka membuat perasaanku damai. Hingga membuat memoriku terlempar ke 13 tahun yang lalu, saat aku seumuran mereka, kelas 4 SD.

Ya, aku pernah seperti mereka, tertawa lepas tanpa beban. Berani maju kedepan tanpa ragu-ragu. Berani mengutarakan pendapat tanpa rasa malu.
Aku pernah seperti mereka, yang kegirangan melihat guru baru dan keasyikan bermain hingga lupa waktu.
Melihat mereka membuatku ingin kembali ke masa anak-anak, yang menangis, senyum, ketawa, tanpa pura-pura. Apa adanya.
Ah, seandainya mereka tahu dunia dewasa itu penuh dengan sandiwara. Penuh dengan tanggung jawab. Mungkin mereka tidak akan mau cepat-cepat dewasa. "Pokoknya jadi dewasa itu berat dek, kalian gak akan kuat. Biar aku  saja." 

Sekilas nostalgiaku membuatku sadar arti kami para relawan hadir ditengah-tengah mereka: kami harus menyampaikan motivasi pada anak-anak sedini mungkin, kami harus menyampaikan nilai-nilai kejujuran dan pantang menyerah sehingga jika besar nanti mereka akan semangat memperjuangkan cita-citanya dengan sifat yang jujur, dengan iman dan takwa. Dengan begitu, mereka tidak akan sependapat dengan orang dewasa yang lemah yang berpikir bahwa dunia dewasa itu penuh keluhan dan kepalsuan. Toh hidup adalah pilihan, pilih maju atau mundur. Pilih mengeluh atau tetap bersyukur.
***
Read Also: Coaching NBS (Nulis Bareng Sobatku)

Sekitar pukul 12.36, kak Dillah dan kak Nuril akhirnya datang. Setelah mereka memperkenalkan diri didepan adik-adik, kami membagi kelompok menjadi dua. Kelompok pertama didampingi oleh kak Dillah, kelompok kedua didampingi oleh kak Nuril.

Karena hari ini adalah hari perkenalan, kegiatan yang kami lakukan hanya kebanyakan bermain.
Kelompok kak Dillah memainkan banyak macam jenis permainan, salah satunya adalah game 'Ikuti Apa yang Saya Katakan'. Misalnya kak Dillah bilang pegang bibir namun tangannya memegang hidung, anak-anak yang seharusnya memegang bibir tapi malah pegang hidung akan gugur. Yang gugur akan dihukum menyanyi atau dance. Hukumannya sungguh menghibur, apalagi banyak anak yang melakukan aksi kocak ketika tampil.


Cuplikan video seru ketika bermain

Begitu juga dengan kelompok kak Nuril, tapi disela-sela permainan mereka kadang melakukan aksi paduan suara. Maklum, anak-anak di kelompok kak Nuril rata-rata perempuan dengan hobi bernyanyi.


Kak Nuril bersama kelompok paduan suaranya


Sedangkan aku? Aku hanya asyik memperhatikan senyum anak Indonesia, senyuman yang membawa kebahagiaan bagi siapapun yang melihatnya.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.20. Kalau bukan karena seorang guru yang mengetuk pintu memberitahukan bahwa sudah waktunya pulang, mungkin kami masih terus bermain. Kami akhirnya berdoa bersama sebelum pulang.

Hari ini, momen-momen saat melihat mereka tersenyum ceria adalah momen paling membahagiakan. Rasanya tak ingin melepaskan tangan mereka ketika menyalamiku sewaktu pulang, "Yuk kita ciptakan lebih banyak lagi momen-momen seru di pertemuan berikutnya," bisikku dalam hati.






























0 Comments