Berdamai dengan Diri Sendiri




Tere Liye bilang, keluarga adalah tempat terbaik untuk menghabiskan waktu dan rumah adalah tempat terbaik untuk pulang. Ya benar, aku merasakan hal yang sama sebelum papa meninggal. Tapi sejak kepergiannya, rumah berubah menjadi neraka dan keluarga adalah sesuatu yang kubenci.

Dulu aku selalu yakin, kalau aku adalah orang yang paling beruntung karena memiliki keluarga yang sempurna. Orang tuaku adalah sosok yang penyayang dan kami bersaudara tak pernah bertengkar, yang kurasakan hanyalah bahagia selama 16 tahun hidup menjadi diriku.

Cinta pertama, pahlawan keluarga, raja di dunia, adalah sosok papa dimataku. Bagiku dialah segalanya. Sewaktu teman-temanku bertanya kenapa aku tidak pacaran, jawabanku adalah karena aku memiliki Papa yang aku tahu cintanya akan mengalahkan seorang pacar. Jadi untuk apa pacaran?
Ketika teman-teman diantar jemput oleh pacarnya, aku diantar jemput oleh papa. Mereka bilang aku anak papi, tapi aku tidak peduli. Yang penting happy.

Hingga suatu hari, papa divonis meningitis oleh dokter, koma seminggu lalu meninggal. Itu pertama kalinya aku merasakan sakit, sakit yang walaupun ku ungkapkan lewat tangisan bertahun-tahun, tidak menghilang. Walaupun selama ini aku terkesan sebagai pribadi yang cuek, tapi sebenarnya aku sangat menyayangi keluarga terutama papa. Semua orang hanya tahu aku adalah anak yang pendiam dan dingin, tapi papa tidak. Papa tahu aku mencintainya dan dia selalu bilang aku berhati hangat.

Belum sembuh rasa sakitku, mama seolah menaburkan garam ke luka yang menganga. Sejak papa meninggal, mama mengurung diri di kamar. Aku tahu mama juga sangat mencintai papa dan masih belum menerima kepergiannya. Di acara tahlilan hari ketujuh, mama masuk ke kamarku dan menatapku dengan tajam. Semua orang diluar lagi yasinan, aku di kamarku berkabung sendirian. Kulihat mama yang matanya seolah ingin menelanku, “kau tahu kenapa papamu meninggal? Semua karena kau.”
Aku tidak mengerti maksud mama. Aku hanya diam dan membalas dengan tatapan heran dan penuh tanya. Mama bilang, penyebab papa terkena meningitis karena kelelahan bekerja dan papa bekerja ekstra dari biasanya karena memikirkan kebutuhanku di SMA yang semakin banyak.

Keluargaku memang tidak kaya raya, hanya sederhana yang penghasilannya bergantung pada saat panen tiba. Aku lalu berpikir, apa selama ini aku membebani papa?
Dua bulan sebelum meninggal, papa pernah bertanya, “Anak SMA sudah banyak yang pakai laptop ya? .”
“Iya pa, tapi di kelasku hanya satu yang punya, laptop kan mahal.” Jawabku dengan polos.
Tapi seminggu kemudian aku menerima laptop. Bukannya menanyakan bagaimana keadaannya, aku malah berterima kasih dan meloncat kegirangan.
Waktu memilih sekolah SMA juga begitu, tanpa berpikir panjang aku memilih SMA favorit yang biaya masuknya lebih mahal dibandingkan SMA lain yang dimasuki sepupu-sepupuku. Papa bilang, anak pintar memang harus masuk di sekolah favorit dan SMA yang kupilih adalah hasil rekomendasi dari guru-guruku di SMP karena aku selalu menjadi juara satu.

Kalau waktu itu aku bilang, “sekolah dimanapun aku tidak masalah pah” dan “Aku tidak butuh laptop pah, jangan terlalu pikirkan kebutuhanku. Aku tidak butuh banyak, hanya butuh buku untuk belajar,” Apa keadaan akan berubah? Apa papa tidak akan kelelahan dan tidak akan meninggal? Pertanyaan itu terus menghantuiku. Musuhku bertambah dua: Aku dan Mama.
Aku benci diriku yang menurutku sudah menjadi penyebab papa meninggal. Aku juga benci mama yang ikut menuduhku seperti itu.

Kuburan belum kering, tanteku yang tak lain keluarga dekat dan satu-satunya adik papa mengklaim bahwa rumah kami adalah miliknya karena sertifikat rumah masih atas nama nenek dan semua milik nenek di wariskan ke dia. Sawah dan kebun cengkeh juga begitu. Mama, aku dan saudara-saudaraku seperti diusir dari keluarga papa, kami sudah tak dianggap. Sejak saat itu kami tinggal di rumah oma (Ibunya mama) tanpa memiliki sepeserpun harta peninggalan papa. Lalu tepat 6 bulan setelahnya, kakakku pergi melanjutkan kuliahnya di kota pempek. Aku marah, merasa kakak lari dari tanggung jawab karena seharusnya dia tinggal menemani mama dan adik-adiknya, tapi kakak tetap pergi dengan alasan yang tak bisa kubantah.

6 bulan berikutnya, aku sedang berjuang menghadapi Ujian Nasional. Aku berharap lulus beasiswa di ITB atau UNHAS. Aku ingin pergi jauh dari sini, batinku ditiap malam. Bagiku, kota kelahiranku itu, seperti kota mati. Tidak ada tanda-tanda kehidupan sejak papa pergi.

Pengumuman tiba, aku gagal mendapatkan beasiswa. Tapi aku tidak menyerah, kukatakan kalau aku akan berangkat sendiri ke kota Makassar untuk mencari beasiswa mandiri. Mama hanya mendengarkan dengan tatapan kosong, lalu berkata lirih “tidak bisakah kuliah disini saja?”. Waktu mendengarnya aku seperti ingin menangis, aku tahu mama sepertinya trauma ditinggal pergi. Papa meninggal, kakak pergi jauh, dan sekarang aku.
Tapi kata-kata mama tidak bisa kulupakan, masih menggema keras ditelingaku bahwa akulah penyebab papa meninggal, karena itu aku harus pergi. Setelah memastikan aku akan baik-baik saja di Makassar, mama memberiku izin. Mama bilang, dia akan selalu mendukungku mengejar apa yang kuinginkan. Padahal waktu itu aku tidak tahu apa yang kuinginkan. Mama lalu mengusap kepalaku dan memelukku, aku hanya diam. Nampaknya mama sudah melupakan kata-kata yang pernah dia lontarkan. Tapi aku tidak.

Juli 2013 aku pergi ke kota Makassar tanpa tujuan. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Yang kutahu, aku membawa luka yang sudah setahun tak tersembuhkan hingga membuatku benci pada kehidupan. Aku benci Allah yang sudah mengambil sosok yang kucintai, aku benci semua keluarga dari pihak papa, aku benci kakak yang meninggalkan mama, dan aku benci mama yang membuatku membenci diriku sendiri. Aku juga benci semesta yang tidak mendukungku mendapatkan beasiswa hingga aku harus bekerja keras bertahan hidup di tanah rantau.

Benci tapi cinta, sepertinya itulah yang kurasakan. Aku pikir aku benci mama, tapi sehari setelah sampai Makassar mama menelpon dan itu membuatku senang tak terkira. Mulai saat itu aku tidak bisa tidur kalau dalam sehari tidak mendengar suaranya. Aku pikir aku benci Tuhan, namun sehari saja tak membaca Quran, hatiku gersang.

Meski sudah berdamai dengan Allah dan mama, aku masih belum bisa berdamai dengan diriku sendiri yang selalu merasa bersalah tiap mengingat papa. Aku juga masih belum bisa memaafkan tanteku yang pertama kali memutuskan hubungan silaturahim dengan keluargaku. Dilubuk hati terdalam, masih ada benci yang bersemayam.

Lalu pada September 2017, aku terkena depresi ringan. Aku tak tahu penyebabnya apa, aku hanya merasa tiba-tiba jenuh dengan rutinitasku dan cepat bosan tiap melakukan sesuatu. Aktifitasku jadi terganggu, kesehatan fisikku menurun. Terapis bilang, ini akibat dari stres menahun yang tanpa kusadari sudah menggerogoti jiwa dan ragaku. Dan setelah ditelusuri lebih dalam, semua ini karena rasa benci yang masih tersisa itu.
                                                                                                           
Aku melakukan banyak perenungan, nasihat dan masukan dari terapis dan ustadzahku juga berdatangan. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa hidup itu tentang kesabaran, memaafkan dan mengikhlaskan. Mungkin selama ini aku sudah bersabar, tapi aku masih sulit memaafkan dan merelakan.

Akupun mengikhlaskan kepergian papa dan berdamai dengan diriku sendiri. Aku sudah percaya bahwa kepergian papa bukanlah kesalahanku, melainkan karena Allah lebih menyayangi papa. Aku juga sudah memaafkan tante meski belum berani menelponnya.

Dan selama ikut kajian Ramadhan ilmiah minggu kemarin, aku mendapatkan hadist ini di materi bagian Silaturahmi:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi].
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ
“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Setelah membacanya berulang-ulang, hatikupun semakin mantap untuk menghubungi tante sebagai bentuk menjalin silaturahmi. Untuk pertama kalinya selama empat tahun sebelas bulan kepergian papa, kami berbicara. Ditengah perbincangan, tanpa kami sadari ada air mata yang mengalir. Suara tante serak dan akhirnya tangisnya pun pecah, begitu juga denganku. Ternyata rinduku selama ini tidak bertepuk sebelah tangan.

Sekarang aku merasa semakin bahagia. Tidak ada benci, tidak ada dendam. Yang ada, tinggal kerinduan yang mendalam. Rindu bertemu dengan keluarga dan kota kelahiranku itu. 

Kepada kehidupan yang selama ini sudah memberikan banyak pelajaran, maaf aku pernah membencimu. Dulu aku belum mengerti makna pepatah sesudah hujan ada pelangi. Padahal berkatmu aku tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri.

Kepada masa depan, perkenalkan, ini diriku yang baru. Kejutan apapun yang kau berikan nanti, akan kuhadapi tanpa mengeluh.

Dan kepada kalian pembaca budiman, aku hanya ingin menyampaikan satu hal: menyimpan amarah dan benci hanya merugikan dirimu sendiri. Tak kan kau temukan kebahagiaan sebelum kau melepaskan keduanya. Maka jadilah pribadi yang pemaaf, yang ikhlas atas ujian yang menimpa. Karena yakinlah, Allah tidak membebani seorang hamba diluar kesanggupannya.

Terakhir, kepada kotaku yang menyimpan sejuta kenangan, terima kasih sudah membiarkanku pergi menyembuhkan luka. Sekarang, tunggu aku pulang.

----
Makassar, 08 Juni 2018.
Pict Source: Pinterest



















3 Comments

  1. Semoga makin banyak otang bisa berdamai dengan dirinya sendiri setelah membaca ini, termasuk saya :)

    ReplyDelete
  2. Masya Allah ... saya merasa kerdil membaca cerita ini, Mbak. Mungkin Mbak tidak sadar, namun percayalah tulisan ini bisa mengubah seseorang - ke arah baik, tentunya. Insya Allah menjadi amal. ^^

    ReplyDelete